INFLUENCE FACTORS MEANS LEARNING ON THE QUALITY OF EDUCATION IN THE BASIC EDUCATIONJAKARTA PROVINCE

Jumat, 17 Maret 2017

INFLUENCE FACTORS MEANS LEARNING ON THE QUALITY OF EDUCATION IN THE BASIC EDUCATIONJAKARTA PROVINCE

 

by: Iswan

Lecturer Faculty of Education, University of  Muhammadiyah Jakarta

 

ABSTRACT

The research method in this research is quantitative method, which is expected to influence the utilization of educational facilities to the quality of learning in primary schools in the region of Jakarta Provincial Government target. Sampling method drawn at random sampling. Variable Means thitung learning has a value of 13.585, the variable quality of teaching has thitung value of 2.6, the variable has a t count the use of means of 2.00, and maintenance of the variable has a value of 13.585 thitung, variable usage thitung classroom has a value of 2, 00, while t table value is equal to 1.960, with a significance value of <5% for each variable of education is partially proved a good use of these facilities have a significant effect on the quality of learning, so the hypothesis can be accepted. Search through multiple regression t count value of the largest of these factors means, it is known that the variable Classrooms (X1) has the most dominant influence on the quality of learning. So the hypothesis about the variables most dominant means of learning affects the quality of the educator or teacher can be accepted. The results show that all hypotheses can be accepted, in which each of these factors are partially means having a significant effect on the quality of educators or teachers.

 

 

 

Keyword: The Quality of learning, facilities in Basic Education.


 

PENDAHULUAN

 

    Dalam era globalisasi persaingan antar-bangsa sangat tajam, pihak lemah adalah bangsa yang kurang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, kurang mampu memperoleh dan mengendalikan informasi dan kurang dapat membangun kemampuan ekonomi yang kuat dan merata di seluruh rakyatnya. Pihak yang kuat terus berusaha melebarluaskan dominasinya dengan menaklukkan yang lemah, tidak semata-mata dengan menggunakan keunggulan fisiknya melainkan dengan cara yang canggih dan memanfaatkan segala metoda yang dapat dipikirkan. Hanya dengan pendidikan kekuatan bangsa itu dapat terwujud, terutama meningkatkan sarana pembelajaran yang baik, dan peningkatan kualitas pendidikan yang bermutu. Kita sekarang mau tidak mau harus berpikir mengenai perjuangan antar-bangsa yang terjadi di ruangan kelas atau the battle of the classroom. Kelangsungan hidup bangsa atau the survival of the nation adalah syarat mutlak untuk perwujudan berbagai tujuan yang luhur seperti terbentuknya Masyarakat Madani, dan itu mustahil tanpa peningkatan mutu sarana pembelajaran dan kualifikasi akademik tenaga pendidik dan kependidikan khususnya pendidikan sekolah dasar yang sangat strategis serta perluasan jangkauannya sehingga mencapai jumlah anak Indonesia yang makin berkualitas dengan dukungan sarana pembelajaran yang cukup memadai.

Usaha peningkatan pengadaan sarana pembelajaran dan mutu pendidikan sekolah dan perluasan jangkuaannya terutama ditentukan oleh peran guru. Sebab itu pelaksanaan kegiatan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan guru sangat penting bagi masa depan pendidikan sekolah, tetapi juga amat besar artinya bagi masa depan bangsa Indonesia. Kita menghadapi masalah sarana pembelajaran, guru pada berbagai tingkat pendidikan sekolah, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah lanjutan atas, masing-masing dengan persoalannya sendiri.

Tersedianya sarana dan prasarana pendidikan secara langsung  dan tidak langsung digunakan dalam proses belajar mengajar, maka guru harus  dapat memanfaatkan segala sarana dan prasarana pendidikan yang ada dengan seoptimal mungkin da bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan pemakaian sarana dan prasarana pendidikan yang ada atau ditempatkan  dikelas dimana ia mengajar. Dengan demikian, jika pemanfaatan segala sarana dan prasarana pendidikan dilakukan dengan tepat dan seoptimal mungkin, maka siswa akan  memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar dengan sungguh-sungguh sehingga proses belajar mengajar dapat   berjalan dengan lancar, teratur, efektif, diharapkan: dapat dijadikan sebagai pedoman dan bahan acuan dalam pelaksanaan  pemanfaatan sarana dan prasarana pendidikan pada tahun pelajaran yang akan datang, dapat meningkatkan displin dalam belajar, merasa aman, nyaman, dan senang mengikuti pelajaran melalui peningkatan sarana pembelajaran.

 

METODOLOGI  PENELITIAN

 

Metode adalah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu, yang mempunyai langkah-langkah sistematis. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif, yang diharapkan dapat memberikan pengaruh pemanfaatan sarana dan prasarana pendidikan terhadap kualitas pembelajaran di Jakarta Selatan. Di samping itu, metode penelitian ini adalah penelitian deskriptif yaitu  penelitian yang bertujuan menggambarkan keadaan sebenarnya. Untuk memperoleh data yang obyektif, maka digunakan dua bentuk yaitu:

a. Penelitian Kepustakaan (Library Research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan mengumpulkan, membaca dan menganalisa buku yang  ada relevansinya dengan masalah yang diteliti.

b.  Penelitian Lapangan (Field Research), yaitu penelitian untuk memperoleh data-data lapangan langsung. Dengan cara mendatangi langsung sekolah yang akan diteliti.

Deskripsi tersebut sebagai gambaran dan desain penelitian untuk mengetahui perpektif atau kerangka acuan dan memandang sesuatu teori dalam penelitian melalui pendugaan pengujian hipotesis, dan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antara variabel Pengaruh Peningkatan Pengadaan Sarana Pembelajaran Terhadap Kualitas Pembelajaran di Jakarta Selatan, dapat di lihat dalam dalam gambar 2 keranga berpikir Penelitian sebagai berikut:

                                                        Gambar: 1

                                       Kerangka berpikir X1, 2,3, 4  dan Y

 

   X1                                                       

                                      

       Pengadaan Sarana

       Pembelajaran                                 X2                             Y         Peningkatan Kualitas

Pembelajaran

   X3

                                                      X4

 

 

 

 

Keterangan:

X1 s.d. X4    : Pengadaan Sarana Pembelajaran

Y                  : Peningkatan Kualitas Pembelajaran

 

 

DESKRIPSI HASIL PENELITIAN

 

 

Pengembangan Pendidikan Sekolah Dasar

Pengembangan pendidikan sekolah dasar, termasuk pendidikan keagamaan yaitu Madrasah Aliyah (MA), dan kejuruan ditujukan untuk (1) memperluas jangkauan dan daya tampung sekolah dasar dan (2) meningkatkan kesamaan kesempatan untuk memperoleh pendidikan bagi masyarakat yang tinggal di daerah kumuh dan masyarakat miskin, (3) meningkatkan kualitas pendidikan sebagai landasan bagi peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan kebutuhan dunia kerja, (4) meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya pendidikan yang tersedia, (5) meningkatkan keadilan dalam pembiayaan dengan dana publik, (6) meningkatkan efektivitas pendidikan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi setempat, (7) meningkatkan kinerja personel dan lembaga pendidikan, (8) meningkatkan partisipasi masyarakat untuk mendukung program pendidikan, dan (9) meningkatkan transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan, sekolah/masyarakat (school/community based management). Kegiatan pokok dalam mengupayakan pemerataan pendidikan sekolah menengah umum dan kejuruan adalah: (1) membangun dan merehabilitasi sekolah dengan prasarana yang memadai, termasuk sarana olahraga, (2) menerapkan alternatif layanan pendidikan, khususnya bagi masyarakat kurang beruntung yaitu masyarakat tidak mampu, kumuh, dan anak jalanan, (3) memberikan beasiswa kepada siswa yang berprestasi dan/atau dari keluarga yang tidak mampu, dan (4) memberikan subsidi untuk siswa sekolah yang tidak mampu, diprioritaskan pada wilayah-wilayah yang kemampuan ekonominya lemah.

Upaya peningkatan manajemen pendidikan sekolah tingkat menengah umum dan kejuruan adalah: (1) membentuk dan meningkatkan peranan Komite Sekolah meliputi perencanaan, implementasi dan evaluasi penyelenggaraan pendidikan di sekolah, serta mendorong daerah untuk melaksanakan rintisan penerapan konsep pembentukan Dewan Sekolah, (2) mengembangkan manajemen berbasis sekolah (school based management) untuk meningkatkan kemandirian sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan, (3) meningkatkan partisipasi masyarakat agar dapat menjadi mitra kerja  pemerintah yang serasi dalam pembinaan pendidikan menengah, (4) mengembangkan sistem akreditasi secara adil dan merata, baik untuk sekolah negeri maupun swasta, (5) mengembangkan sistem insentif yang mendorong kompetisi yang sehat antar lembaga dan personel sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan, (6) memberdayakan personel dan lembaga antara lain dilakukan melalui pelatihan yang dilaksanakan oleh lembaga profesional, (7) meninjau kembali semua peraturan di bidang pendidikan yang tidak sesuai lagi dengan arah dan tuntutan pembangunan pendidikan, dan (8) merintis pembentukan badan akreditasi dan sertifikasi mengajar untuk meningkatkan kualitas tenaga kependidikan secara independen.

Disamping itu pengebangan pendidikan dasar juga dimaksudkan untuk menambah wawasan bagi masyarakat dalam berbagai bidang, yang pada gilirannya dapat bermanfaat bagi warga masyarakat untuk menambah keterampilan berusaha secara profesional, sehingga warga mampu untuk mewujudkan tingkat kehidupan yang lebih baik. Sasaran program pembinaan dan pengembangan perpustakaan agar terus ditingkatkan sejalan dengan  meningkatnya minat baca warga masyarakat yang berkehendak untuk memacu diri di dalam penguasaan pengetahuan dan keterampilan, serta semakin profesionalnya para pengelola perpustakaan agar mampu menyediakan bahan bacaan yang bermanfaat dan bermutu, disamping dapat menarik minat baca anggota masyarakat.

 

Peningkatan Kualitas Pembelajaran

Berdasarkan kenyataan empirik sebagaimana ketentuan standar nasional pendidikan yang dituangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 khususnya tentang standar pendidik dan tenaga kependidikan, dipandang perlu adanya upaya pengembangan model  dalam rangka percepatan peningkatan kualifikasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Peningkatan kualifikasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan memerlukan dukungan perguruan tinggi, hal ini sesuai dengan peran perguruan tinggi sebagaimana dikemukakan dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 pasal 20 ayat (3) menyatakan bahwa perguruan tinggi dapat menyelenggarakan pendidikan akademik, profesi, dan atau vokasi. Perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan jenjang strata merupakan mitra strategis  dalam upaya peningkatan mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan  melalui peningkatan  kualifikasi akademik bagi para guru sekolah dasar.

Mengacu pada hal tersebut di atas maka peningkatan kualifikasi akademik bagi guru sekolah dasar mutlak perlu ditingkatkan, dengan demikian secara berangsur-angsur kualitas pendidikan dan sumberdaya manusia bangsa Indonesia kedepan semakin baik dan berkualitas.Sarana Media Pengajaran, Secara singkat ketiga macam sarana pendidikan tersebut dapat  dijelaskan sebagai berikut:

           

 

Karakterisatik Rekspondsen

 

Dari term of reference tersebut di atas peneliti membatasi jumlah responden  yang diambil sampel  dan dijadikan objek penelitian, kemudian diambil secara acak dari masing-masing wilayah yang terdiri dari berbagai wilayah, dapat dilihat pada tabel 1 karakteristik respopnden berdasarkan jenis kelamin sebagai berikut:

 

Table 1

Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

 

No

Wilayah

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

1

Jakarta Pusat

2

3

5

2

Jakarta Utara

2

2

4

3

Jakarta Barat

3

1

4

4

Jakrta Selatan

4

2

6

5

Jakarta Timur

2

2

4

 

Jumlah

13

10

23

      Sumber: Hasil Penelitian bulan November  2011

 

Jumlah responden berdasarkan jenis kelamin dalam tabel tersebut di atas, juga dapat terlihat tingkat pendidikan responden yang menjalankan tugas sebagai profesi pendidik berjumlah 23 orang, gambaran umum tentang tingkat pendidikan tenaga pendidik di  wilayah Provinsi DKI Jakarta dikelompokkan kedalam Tabel 2 Data Tenaga Pendidik Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Menurut Pendidikan Formal dengan rincian sebagai berikut:

Tabel 2

Data Responden Berdasarkan  Pendidikan  Formal

 

NO

Uraian

Sarjana Muda

S1

S2

Jumlah

1

Jakarta Pusat

2

2

1

5

2

Jakarta Utara

1

3

0

4

3

Jakarta Barat

0

3

1

4

4

Jakrta Selatan

2

3

1

6

5

Jakarta Timur

0

3

1

4

JUMLAH

5

14

4

23

Sumber: Hasil Penelitian bulan November  2011

 

Data responden dari 5 Wilayah DKI Jakarta bahwa pendidikan sarjana muda masih ada sebanyak 5 orang, dan pendidikan S1 14 orang serta untuk pendidikan S2 berjumlah 4 orang. Adapun dari faktor usia responden tenaga pendidik secara rinci dapat terlihat pada tabel 3 data responden berdasarkan usia sebagai berikut:

Tabel 3

Data Responden Berdasarkan Usia

NO

WILAYAH

20 Th - 24 Th.

25 Th-

29 Th.

30 Th- 34 Th.

35 Th - 39 Th

40 Th- 44 Th

45 Th- 49 Th

50 Th - 54 Th

55 Th ke atas

JUMLAH

1

Jakarta Pusat

1

2

1

-

-

1

-

-

5

2

Jakarta Utara

-

1

1

-

-

1

1

-

4

3

Jakarta Barat

1

-

1

1

1

-

-

-

4

4

Jakrta Selatan

2

1

1

1

-

-

1

-

6

5

Jakarta Timur

-

1

1

1

1

-

-

-

4

Jumlah

4

5

5

3

2

2

2

0

23

Sumber: Hasil Penelitian bulan November 2011

 

Jumlah responden tenaga pendidik sekolah dasar usia 20.d. 24 tahun sebanyak 4 orang , dan umur 25 s.d. 34 tahun sebanyak 5 orang,dan usia 35 s.d. 39 tahun sebanyak 3 orang, serta usia 40 s.d. 54 tahun sebanyak 6 orang, dengan demikian jumlah responden rata-rata masih berada pada usia produktif sebagai tenaga pendidik. Berdasarkan Status kepegawaian data responden dapat dilihat pada tabel 4 data responden berdarkan status kepegawaian sebagai berikut:

Tabel 4

Data Responden Berdasarkan Status Kepegawian

 

NO.

 

Wilayah

Jenis Kelamin

Status Kepegawaian

Jumlah

Laki

Perempuan

PNS

PTT

 

1

Jakarta Pusat

2

3

4

1

5

2

Jakarta Utara

2

2

4

0

4

3

Jakarta Barat

3

1

3

1

4

4

Jakrta Selatan

4

2

4

2

6

5

Jakarta Timur

2

2

3

1

4

JUMLAH

10

13

18

5

23

Sumber: Hasil Penelitian bulan November  2011

 

 

KESIMPULAN

Bahwa faktor sarana pembelajaran merupakan yang sangat penting untuk mendukung proses pembelajaran yang berkualitas hal ini dibuktikan dengan hasil uji persamaan regresi dan korelasi dengan nilai thitung sebesar 2,6, dengan nilai signifikansi <5% untuk masing-masing variabel sarana pendidikan maka terbukti secara parsial faktor sarana dapat mempengaruhi pembelajaran yang berkualitas. Bahwa tingkat korelasi terhadap penggunaan fasilitas sarana pembelajaran termasuk ruang kelas, ruang laboratorium, ruang media dan sarana olah raga diketahui menunjukkan hasil lebih tinggi pemanfaatannya, dilihat dari sisi perawatan masih sangat kurang mendapat perhatian dan perlu ditingkatkan dan kepeduliannya dalam merawat fasilitas pembelajaran.

REKOMENDASI

Kualitas pendidik agar terus ditingkatkan kemampuannya karena merupakan yang paling dominan dapat mempengaruhi kualitas pendidik/guru, hasil penelitian menunjukkan bahwa semua hipotesis dapat diterima, dimana masing-masing faktor sarana parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kualitas pendidik/guru. Terkait dengan pemangku kebijakan, perlunya ada pembinaan dan perhatian khusus terhadap sekolah-sekolah Dasar di wilayah Jakarta Selatan, yang masih harus dibenahi termasuk masalah fasilitas sarana ruang kelas, penambahan fasilitas laboratorium, pengadaan media pembelajaran dan tidak kalah strategisnya adalah sarana olah raga.

 

 

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Arikunto, Suharsimi, Organisasi dan Administrasi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, Jakarta: PT GrafindoPersada, 1993, Cet. II

________________, Pengelolaan Materiil, Jakarta: PT Prima Karya, 1987, Cet. I

________________, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: PT

Rineka Cipta, 2006, Cet. XIII

Arsyad, Azhar, Media Pengajaran, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2000, Cet. II

Azhari, Akyas, Psikologi Umum dan Perkembangan, Jakarta: PT Mizan Publika,  2004, Cet.

Bafadal, Ibrahim, Seri Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah, Manajemen Perlengkapan Sekolah Teori dan Aplikasi, Jakarta:  PT Bumi Aksara, 2003, Cet. I

Ball, S. J. (1990). Politics and Policy Making in Education: Exploration in Policy

            Sociology. New York, Routledge.
Burhanuddin, Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan, Bumi

            Aksara, 1994.
Bass.B.M (1995). Theory of Transformational Leadership Redux. Leadership Quarterly.

            6 (4): 463-478.
Gerungan, W.A., 1986, Psikologi Sosial, Bandung: Eresco.
Denzin, N. K. (1999). Biographical Research Method. Issues in Educational Research. P.

            J. Keeves and P. Lakomski. Amsterdam, etc., Pergamon: 92-102.
Ditjen. Mandikdasmen (2007). Panduan Sistem Penyelenggaraan Rintisan Sekolah

            Bertaraf Internasional untuk Pendidikan Dasar dan Menengah.
Dit. PSMP (2007). Panduan Penyelenggaraan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional

            (SBI) untuk Sekolah Menegah Pertama.
Doecke, B. (2001). Knowledge and 'Knowledge': The Status of Teachers' Narratives in

            Educational Research. Pogress in Education. R. Nata. Huntington New York,

            Nova Science Publishers. 4: 111-134.
Eric Development Team (2003). Professional Development: Successful Strategies for

            Teacher Change. www.eric.ed.gov. 27 Agustus 2007
Evans, R. (1996). The Human Side of School Change: Reform, Resistance, and the Real

            Life Problems of Innovation. San Francisco, Jose Bass.
Horton & Hunt,1984, Sosiologi Jilid II, Jakarta: Erlangga.
Huntington & Nelson, 1984, Partisipasi Politik: Tak Ada Pilihan Mudah, Jakarta:

            Sangkala Pulsar.
Johnson, doyle paul, 1986, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, Jilid I & II, Jakarta:

            Gramedia.
Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0490 / U / 1992 tentang Sekolah

            Menengah Kejuruan.
Lewin, K. (1966). Group Decision and Social Change. Readings in Social PSychology. E.  Maccoby, T. M. Newcomb and E. L. Hartley. London, Methuen and Co LTD.
Lieblich, A. R. and e. a. Tuval-Mashiach (1998). Narrative Research: Reading, Analysis,

            and Interpretation. Thousand Oak, California, Sage Publication.
Maslow, A. H. (1954). Motivation and Personality. New York, Evanston, London,

            Harper and Row.
Manusia, dan Teknologi, BPPT, 2001.
Nachrowi dan Suhandojo, Tiga Pilar Pengembangan Wilayah : Sumber Daya Alam,

            Sumber Daya

Robertson, Ronald, 1992, Globalization: Theory and Global Culture, London:Sage

            Publications.
Riduan, Dr, MBA, 2010, Metode dan Teknik Menyusun Tesis, Cetakan ke VIII, Pebrbit Alfabeta-Bandung.

Riduan, Dr, MBA, 2010, Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian, Cetakan ke-VII Pebrbit Alfabeta-Bandung.

Suharsimi Arikunto, Dr. Prof. 2006, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Renika Cipta, Edisi Revisi.

Sugiyono, Dr, Prof. 2010, Metode Penelitian Pendidikan, pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Alfabeta Bandung.

Sa'ud, Makmun, Perencanaan Pendidikan : Suatu Pendekatan Komprehensif, PT.

Remaja rosdakarya, 2006.
Sternberg, R. J. (1994). In Search of the Human Mind. Philadelphia, etc., Harcourt Brace

            Colllege.

Saifuddin Azwar, Dr MA. 2010. Realibilitas dan Validitas, Edisi ke 3, cetakan ke-X, Penerbit Pustaka Pelajar.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Vembrianto, Pengantar Perencanaan Pendidikan, Grasindo, 1993.
Weller, L.D. (1996).Techniques Benchmarking: a paradigm for change to quality

            education. The TQM Magazine. 8 (6): 24-29
Weller, L.D. and Hartley, S.A. (1994).Why are Educators Stonewalling TQM ?. The

 TQM Magazine. 6 (3): 23-28

 

 

TOP